Hexachroma vs QLED

about us

Hexachroma untuk Semua Orang


Setelah bicara banyak tentang Hexachroma dari Panasonic, sepertinya kurang fair bila kita coba bandingkan dengan teknologi gambar dari pabrikan televisi lain. Karena pada dasarnya semua pabrikan tersebut terus menerus melakukan pengembangan produknya, dengan menjejalkan berbagai jenis teknologi yang dianggap terbaik oleh mereka sendiri.

Tak lain semua berujung pada penyajian gambar yang paling sempurna untuk kenikmatan menonton penggunanya. Termasuk Hexachroma pastinya. Tapi ada satu perbedaan mendasar yang membuat Hexachroma terlihat lebih unik, spesifik, hingga akhirnya mampu menyajikan output terbaik dibanding lainnya. 


Lebih Komprehensif


Beda dengan teknologi pengolah gambar (picture processor) lain, Hexachroma bekerja secara komprehensif. Bila kebanyakan teknologi lain, ambil contoh teknologi Quantum Dot, mengejar kesempurnaan warna dengan mengandalkan optimalisasi tingkat kehitaman dan kesempurnaan putih dari gambar. Teknologi ini tak melakukan tweaking pada unsur warna. Karena mengandalkan logika bahwa kesempurnaan ‘kehitaman’ gambar akan menyempurnakan sajian warna di gambar. Artinya mereka hanya mengandalkan satu sisi prosesing gambar untuk menghasilkan warna yang optimal. 

Quantum Dot ini hanya bekerja untuk jenis layar LED, karena ia masih membutuhkan backlight untuk mencari kehitaman serta brightness yang dituju. Makanya TV yang menggunakan teknologi ini kemudian disebut sebagai TV QLED. Ini sesuai dengan tujuan diciptakannya QLED, yang ingin menyaingi performa jenis layar TV OLED yang memang terbukti paling sempurna menyajikan brightness dan kontras.

Sedangkan Hexachroma justru berangkat dari kombinasi (atau bisa disebut kelengkapan) unsur warna, dari tiga unsur standar RGB dilengkapi dengan CMY hingga memperkaya palet warna yang dihasilkan. Kombinasi tersebut kemudian ditambahkan dengan tingkat kecerahan (brightness) serta kontras yang sempurna, termasuk unsur skin-tone yang menambah kealamiahan gambar. Hexachroma bekerja lebih komprehensif ketimbang teknologi pesaingnya. Tak hanya dari satu sisi, tapi dari berbagai sisi hingga komplit. 

Kinerja Hexachroma ini juga sangat tidak terpengaruh pada jenis layar yang mengaplikasikannya. Hexachroma bisa bekerja baik di TV LED maupun OLED. Seperti yang dibuktikan Panasonic yang merilis berbagai jenis TV Hexachroma dengan dua jenis layar TV tersebut di tahun 2017 ini. Artinya, apapun jenis TV dari Panasonic yang Anda pilih, keistimewaan Hexachroma lewat sajian warna juga gambar yang alamiah, tetap bisa dinikmati.


Memudahkan Menyenangkan


Mengutip seorang begawan teknologi yang pernah menyatakan bahwa, “teknologi tak memiliki makna atau tidak menjadi penting, ketika hanya bisa dinikmati segelintir pihak saja.” Maka bisa dikatakan teknologi pengolah gambar selain Hexachroma, masuk dalam kategori yang disebut sang begawan tersebut. Maklum, untuk mendapatkan teknologi Quantum Dot, Anda harus memiliki TV dengan harga yang masih menjulang. Apalagi teknologi gambar pada OLED, karena jenis layar ini masih dibanderol tinggi. Termurah di pasaran bisa di atas Rp25 jutaan, karena hanya bisa di besar layar di atas 50inci.

Fleksibilitas Hexachroma dibanding teknologi lain, membuat teknologi asli buatan Panasonic ini bisa diterapkan tak hanya di TV OLED, tapi juga LED. Efeknya, Anda bisa mendapatkan TV Hexachroma berlayar LED 43in hanya dengan harga tak lebih dari Rp7 juta. Ini membuktikan kutipan sang begawan, Hexachroma adalah teknologi yang bisa dinikmati banyak orang. Teknologi yang memudahkan dan menyenangkan banyak orang.


YOU MAY ALSO LIKE